Sesadis apapun hal yang ibu lakukan padaku, aku tidak akan pernah bisa membencinya.Bagaimanapun, ia adalah korban dari kejahatan dunia ini.━━━━━━━━━━Ibu telah melakukan banyak hal supaya aku bisa tetap hidup.Ketika ibu marah karena tidak dapat melindungi dirinya sendiri, ia menggoreskan pisau ke pergelangan tangannya.
Ketika ibu syok sewaktu melihat dua garis dari hasil tesnya, ia memukul-mukul perutnya.
Ketika perutnya mulai membesar, ia berusaha meminum obat untuk menggugurkan kandungannya.
Ketika ia tidak memiliki siapa pun di sisinya, ia menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya.
Ketika ia sangat ingin menyingkirkanku, ia tetap mempertahankanku demi menuruti pasangannya.
Ketika ia melahirkanku, ia sebisa mungkin tidak membunuhku.
━━━━━━━━━━Aku sendiri tidak tahu kenapa aku diberi nama Makise, bahkan tidak yakin kalau ibu sempat memikirkan nama untukku.Aku juga tidak begitu mengingat wajah ibu, karena aku tidak berani melihat wajahnya, tetapi apa yang dilakukannya selalu bisa kuingat.Biasanya, ia duduk sambil memandangi pemandangan di luar jendela dengan tatapan kosong, sembari menggenggam sebuah foto ketika dirinya masih muda.Foto itu bahkan bukan sembarang foto. Di sana, terlihat dirinya berdiri dengan percaya diri, dengan medali di lehernya yang ia acungkan sembari tersenyum memperlihatkan gigi. Siapapun yang melihat itu, pasti tidak menyangka bahwa itu adalah ibu ketika masih muda.Atau sebelum terjadinya tindakan kejahatan itu.Kalau sudah duduk sembari bernostalgia, ibu tidak akan bisa diganggu. Pernah suatu kali, aku memanggilnya karena ada lembaran karyawisata yang harus ditandatangani. Pada akhirnya, ia menatapku dengan murka kemudian memukulku seakan aku melakukan sesuatu yang membuat hidupnya susah.Pernah juga suatu kali, aku tidak sengaja memecahkan piring ketika aku berinisiatif untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Hanya saja, ia tidak peduli pada hal itu, lantas menggoreskan pecahan piring itu pada lenganku.Semua itu ibu lakukan saat ayah tidak ada. Ketika ayah pulang, ia bersikap seperti biasa, layaknya seorang istri dan seorang ibu. Biasanya, aku harus berbohong dengan mengatakan, "Aku terjatuh" atau "Terluka karena tidak sengaja menjatuhkan piring".Sewaktu itu, dibandingkan marah, aku lebih takut pada ibu. Namun, aku juga tidak bisa paham kenapa ia sangat membenciku. Ia hanya mengatakan kalau aku "Menghancurkan hidupnya" atau "Andai saja kau tidak pernah lahir".Ibu akan berceloteh panjang lebar terkait masa lalunya yang bahagia, tiba-tiba hancur begitu saja. Kadang, ia juga menyalahkan dirinya sendiri seperti,"Andai aku bisa melindungi diri".Pada akhirnya, seluruh perbuatan ibu diketahui juga oleh ayah. Pertengkaran hebat pun terjadi, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk bercerai. Saat itu, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan 'cerai' itu, tetapi yang kuingat, kami harus pergi ke sebuah persidangan.Hakim memutuskan bahwa ibu tidak boleh menemuiku seumur hidupnya atas tindakan yang telah ia lakukan padaku. Sementara itu, ayah memenangkan hak asuh atas diriku. Jika ditanya soal perasaanku, aku tidak benar-benar lega karena ibu tidak ada. Justru aku lebih penasaran, "Apa yang menyebabkan dirinya seperti ini?"Atas semua yang telah ia lakukan, aku tidak bisa membenci ibu.Selang beberapa lama sejak perceraian itu, ayah menikah lagi dengan perempuan lain. Katanya, ia merupakan rekan kerja ayah dan sudah mengenal cukup baik selama beberapa waktu. Ia juga belum pernah menikah sebelumnya, jadi kurasa ia memang menerima ayah apa adanya.Sifatnya dengan ibu sangat jauh berbeda. Mama–begitulah aku memanggilnya–terlihat lebih perhatian dan tulus dalam menjagaku. Saat aku sengaja memecahkan piring untuk melihat reaksinya, ia dengan panik menghampiriku dan menjauhkanku dari pecahan beling. Tangannya mengusap punggungku dan berkata, "Kamu tidak apa-apa, 'kan, Makise-kun? Tidak apa-apa, Makise-kun pasti tidak sengaja melakukannya. Makise-kun anak baik."Mungkin ayah sudah menceritakan semuanya mengenai masa lalunya. Itulah sebabnya, mama lebih berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata. Sebisa mungkin, ia tidak mempermasalahkan apa yang telah kulakukan, meskipun itu adalah kesalahan.“Makise-kun anak baik, tidak mungkin membolos sekolah. Kalaupun iya, pasti ia sedang kelelahan,” katanya, ketika sekolah menelepon pihak wali karena aku tidak masuk sekolah. Padahal, itu juga merupakan hal yang disengaja untuk melihat reaksinya.Logikanya, mungkin akan lebih masuk akal kalau aku bersyukur atas betapa baiknya ibu tiriku ini. Namun, entah kenapa, aku tidak menyukainya. Terlebih lagi, ketika ia memanggilku dengan sebutan ‘anak baik’. Maksudnya anak baik itu, anak yang seperti apa? Kenapa ia begitu bersikeras bahwa Takizawa Makise ini adalah seorang ‘anak baik’?Rasanya, aku seperti hidup dalam kebohongan. Apapun yang kulakukan, ia selalu memuji. Ketika aku melakukan kesalahan, ia memaklumi dan tidak mempermasalahkannya. Tidak, bukan. Bukan ini yang kumau. Aku mau lebih dari ini. Bukan, maksudku, aku jauh lebih baik, dan kemampuanku tidak hanya sebatas ini.Apa ia ragu terhadapku? Menganggap kalau aku hanya seorang anak menyedihkan, korban dari kekerasan orang tuanya dan harus dikasihani setiap waktu?Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang dikasihani oleh orang asing dalam hidupku. Dia ini … sialan, sombong sekali. Sementang dirinya hidup dalam kemewahan dan keluarga harmonis, menganggap aku hanya manusia menyedihkan yang memerlukan kasih sayang, masih dibaluti trauma akibat kekerasan yang didapatkan. Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati saja kau, bajingan!Semenjak itu, aku sadar, bahwa aku membenci mama.Meski begitu, aku tidak punya rencana untuk melakukan apapun padanya. Aku masih bisa bersikap baik, terkadang melakukan kesalahan yang kubuat-buat. Begitulah aku hidup.Beranjak dewasa, aku masih teringat pada ibu. Meski begitu, aku tidak tahu apapun tentang dirinya. Aku hanya mengenal dirinya dari kalimat makian yang ia utarakan padaku waktu kecil. Barulah aku ingat, ia adalah seorang atlet dalam cabang olahraga lari.Loading … Google …Pencarian: Takizawa Naomi …[hapus]Naomi atlet lari … [enter][Mungkin maksud Anda: Naoki atlet lari]Aku tidak tahu apa marga ibu.Aku lahir pada tahun 2000, maka …Kasus pemerkosaan atlet lari perempuan 1999[Hasil: Atlet Lari Ini Mengalami Kekerasan Seksual, Sehingga Tidak Dapat Ikut Bertanding di Olimpiade Nasional]Ini … Ini ibu!Meski tidak menunjukkan nama lengkap dan wajahnya, aku tahu dari teks berita bahwa ini adalah ibu. Persis seperti apa yang diceritakannya.Tersangka adalah Hanazawa Subaru, diduga ia menipu seorang atlet prefektur berinisial S.N. Namun, hal itu tidak pernah terbukti, sehingga ia dibebaskan.Hanazawa … Subaru …Perlu waktu untuk menelusuri siapa Hanazawa sialan ini. Atas bantuan rekan kerjaku yang merupakan seorang jurnalis investigasi, ditemukan bahwa Hanazawa Subaru pergi ke sebuah kota bernama Midcrest dan berganti nama. Mau apa dia ke kota kriminal ini? Mau hidup tenang dalam kejahatan? Brengsek, tidak akan kubiarkan.Aku mengajukan proposal investigasi terkait kota Midcrest ke perusahaan tempatku bekerja. Hasilnya, aku diperbolehkan menelusuri terkait kota ini selama dua tahun penuh, selagi aku berkuliah S2 di sana. Entah apa yang akan terjadi, apa aku akan tetap hidup atau kembali dalam keadaan mati.Masa bodoh, itu urusan belakangan. Aku akan membalaskan dendam ibu.Memaafkan dosa Subaru adalah urusan Tuhan. Tugasku adalah mengantarkannya pada Tuhan.MATI MATI MATI MATI MATI KAU, BAJINGAN!

Bagaimana sifatku? Hm ...Kalau membaca kisah hidupku, aku harus mengakui bahwa hidupku memang tidak begitu menyedihkan. Toh, memiliki ibu tiri yang baik dan penyabar adalah hal yang perlu disyukuri, bahkan teman-temanku sering berkomentar, “Mamamu baik sekali! Aku iri!”Hanya saja, bukan itu yang kuinginkan. Aku tidak suka atas sikapnya yang terlihat merendahkanku. Aku tidak butuh semua kasih sayang mama, aku ingin ia tidak memperlakukanku layaknya orang yang harus dikasihani.Itulah mengapa, ia sempat stres karena aku melakukan kenakalan. Namun, ia sendiri selalu berusaha tersenyum dan terus meyakinkan bahwa aku adalah ‘anak baik’.Aku benci itu.Aku memang benci mama. Hanya, kebencianku ini jauh lebih dalam kepada Hanazawa Subaru, orang yang memperkosa ibuku. Tidak, tidak sudi aku mengakuinya sebagai ayahku! Aku tetap memilih Takizawa Satoru sebagai ayahku, meski harus kuakui, aku juga membencinya karena ia meminta ibu supaya tetap melahirkanku.Dasar bodoh. Kalau saja sewaktu itu aku mati, ibu tidak perlu mengalami depresi yang menyiksa hidupnya. Bahkan, kalau sekarang ada mesin waktu pun, aku lebih memilih pergi ke masa lalu dan menyelamatkannya dari Subaru. Atau, kalau saja pihak berwenang itu melakukan upaya lebih cepat, ibu tidak perlu tersiksa seperti ini!Akan tetapi, bagaimana pun, aku juga tidak mau mati karena sudah terlanjur hidup. Jadi, Takizawa Makise harus tetap hidup.Keinginanku untuk tetap hidup bukan semata-mata hanya karena aku ingin membalaskan dendam. Itu klise sekali, bahkan kalau ada yang masih hidup hanya dengan tujuan itu, kupikir lebih baik mati saja sana.Sebagai laki-laki, aku ingin menjalani hidup dengan baik.Ketika ada seorang perempuan yang tidak mendapatkan tempat duduk di bus, aku berdiri dan memberikan milikku. Ketika ada seorang perempuan yang tidak memiliki payung saat hujan, aku memberikan milikku. Ketika rekan kerja perempuanku tidak kebagian kari di jam makan siang, aku memberikan milikku.Di alam bawah sadarku, aku selalu terpikirkan soal ibu. Jauh di dalam pikiranku, aku takut para perempuan ini akan mengalami hal yang sama. Itulah mengapa, aku selalu berbagi pada mereka.Bahkan kalau harus memberi hidupku pada ibu, akupun akan menyanggupinya.Namun, kalau harus memberikan tubuhku, tentu aku enggan. Aku takut, aku juga tidak tertarik pada seksualitas. Katanya, aku memiliki pemikiran yang suci sehingga akan menolak memikirkan hal-hal kotor. Mungkin benar, mungkin juga lebih tepat disebut trauma…Yah, aku tidak begitu memikirkan keburukan ataupun kebaikan yang kumiliki, tetapi mungkin aku juga merasa bersyukur karena aku masih memiliki kebaikan dalam diri. Bahkan meskipun hidupku memang menyedihkan.Ah, kalau mama melihat ini, ia pasti akan berceletuk, “Takizawa Makise memang anak baik.”Bikin mual saja.━━━━━━━━━━Aku tidak tahu apakah menjadi anak dari korban pemerkosaan akan mempengaruhi orientasi seksual atau tidak.Suatu kali, ketika aku sudah menginjak bangku SMA, salah seorang teman mengajak para siswa laki-laki di kelas untuk menonton porno. Saat itu, aku belum pernah menonton porno seumur hidupku. Biasanya, jika melihat gambar-gambar telanjang di internet, itu disebabkan karena ketidaksengajaan. Namun, biasanya aku buru-buru menutupnya. Aku pikir itu hal yang wajar.Keanehan terjadi ketika teman-temanku mulai ereksi, aku mulai merasa mual. Di puncak mereka yang sepertinya akan ejakulasi, aku lari ke kamar mandi. Muntah. Penisku bahkan tidak bereaksi sama sekali. Teman-temanku berpikir mungkin aku sedang tidak enak badan. Aku juga tidak berpikir aneh-aneh, barangkali memang seperti itu.Waktu ke waktu, aku menjalani kehidupan SMA seperti biasa, termasuk berpacaran. Ketika banyak teman-temanku yang telah melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya, aku sama sekali enggan. Takut. Sekaligus juga tidak tertarik. Itulah mengapa hubunganku tidak berlangsung lama, menganggap kalau aku adalah seorang homoseksual.Masalahnya, aku sama sekali tidak tertarik untuk berhubungan seksual dengan perempuan maupun laki-laki. Tiap kali melihat video porno pun, aku merasa mual, aku ingin muntah! HUEK!

PROFILE  
NameTakizawa Makise滝沢牧瀬 / まきせ
DoBMay 16th2000
PlaceYokosukaKanagawa Prefecture
EducationJurnalism (S1)Business (S2)
JobJournalist (main / secret)Magister student
Height182cm
MBTIINTJA
BloodO+

TRIVIAMakise seorang aseksual.Makise bisa membaca gerak-gerik seseorang ketika ia akan melakukan perbuatan mesum.Makise tidak banyak bicara, tetapi bisa menjadi pendengar yang baik.Makise cukup ahli dalam olahraga karate.Makise senang membaca buku, entah apakah itu buku filsafat, hukum, politik, sosiologi, ataupun novel.Makise memiliki banyak bekas luka di bagian lengannya.

WRITER's NOTESJika kamu telah sampai sini, kemungkinan besar kamu telah membaca keseluruhan profil tentang Takizawa Makise. Terima kasih banyak!Tentu penulis tidak mengelak bahwa karakter Takizawa Makise terinspirasi--secara tidak sadar--oleh buku-buku atau kisah fiksi lain yang menjadikan gaya penulisan milik penulis seperti sekarang ini.Jika ada kesamaan ataupun lainnya, penulis meng-klaim bahwa hal tersebut bukanlah hal yang disengaja. Setiap penulis memiliki referensi masing-masing, tetapi referensi ini juga bisa jadi sama, seperti novel kesukaan yang sama atau membaca webtoon yang sama.Segala bentuk kritik, saran, komentar, dan pendapat dapat dikirimkan melalui pesan langsung @mc_cyeonjun.Terima kasih.Salam,
K